Tampilkan postingan dengan label Reksadana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reksadana. Tampilkan semua postingan

9/17/18

Sejarah Pasar Modal di Dunia dan di Indonesia

Sejarah Pasar Modal di Dunia dan di Indonesia


Banyak orang meragukan manfaat adanya pasar modal. Bahkan sebagian masyarakat umum menganggap pasar modal sebagai tempat perjudian yang harus dihindari. Hal ini merupakan pemahaman yang salah mengenai pasar modal. Sesungguhnya pasar modal memiliki manfaat sangat besar, bukan hanya bagi perusahaan, namun juga bagi masyarakat dan negara.

Menurut pengertian dalam Bahasa Indonesia, Pasar Modal adalah kegiatan yang behubungan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, tempat perusahaan publik penerbit efek serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek. Untuk pemahaman lebih lanjut mengenai dasar terbentuknya pasar modal dan manfaatnya, sebaiknya kita kembali ke abad ke-12 dimana lahirnya sejarah pasar modal dunia bermula.

Sejarah awal pasar modal dunia

Pada hakikatnya, sebuah pasar muncul karena adanya pertemuan para pedagang dengan pembeli yang saling melakukan transaksi jual-beli. Begitu pula dengan sejarah pasar modal.

Sejarah pasar modal di dunia masa kini diawali pada abad ke-12 di Perancis, saat para courretiers de change (perancang perubahan) yang memiliki kepentingan sebagai pengelola dan pengatur utang komunitas pertanian terhadap perbankan. Karena mereka memperjual-belikan hutang, maka dapat dikatakan bahwa mereka merupakan broker pertama di dunia.

Namun ada pendapat berbeda yang mengatakan sejarah pasar modal dimulai pada abad ke-13 di daerah Bruges, ibu kota dan kota terbesar di provinsi Flanders Barat di Wilayah Flemish di Belgia. Para pedagang komoditas berkumpul di rumah Van der Beurze (Seorang pemilik penginapan besar) yang kemudian perkumpulan tersebut disebut sebagai “Brugse Beurse”, sebuah perkumpulan yang masih informal.

Meskipun sebenarnya Van der Beurze memiliki sebuah gedung di Antwerp (sebuah kota di Belgia) dimana pertemuan-pertemuan itu diadakan. Van der Beurze memiliki Antwerpen yang merupakan tempat perdagangan utama pada era tersebut. Ide pertemuan ini kemudian semakin menyebar di sekitar Flanders dan negara-negara tetangga, lalu “Beurzen” segera dibuka di daerah Ghent dan Rotterdam.

‘Beurzen merupakan bahasa Belanda yang dipakai penduduk dari negara-negara di pesisir barat laut Eropa yang kemudian penyebutannya banyak diplesetkan menjadi Borsa, Bolsa, Borse dan Bursa, istilah yang dipakai dalam perdagangan di pasar modal hingga saat ini.’

Pada pertengahan abad ke-13, bankir dari Venesia mulai memperdagangkan sekuritas milik pemerintah. Pada tahun 1351, pemerintah Venesia dilarang menyebarkan desas-desus yang dilakukan untuk menurunkan harga dana pemerintah. Kegiatan ini juga mulai diikuti oleh bankir di Pisa, Verona, Genoa, dan Florence selama abad ke-14. Hal ini memungkinkan karena kota (saat itu masih disebut sebagai negara) tersebut karena sudah cukup mandiri tanpa dipengaruhi campur tangan pemerintah daerah setempat.

Perusahaan-perusahaan dari Italia menjadi perusahaan yang pertama kali menerbitkan saham di bursa yang kemudian diikuti oleh perusahaan di Inggris dan negara-negara pesisir barat laut Eropa.
Sedangkan sejarah pasar modal modern diawali antara abad ke-17 dan ke-18. Saat itu Belanda menjadi pelopor inovasi dasar-dasar sistem keuangan modern. Sementara kota-kota di Italia masih memproduksi obligasi pemerintah pertama yang dapat dipindah-alihkan, mereka tidak mengembangkan keperluan lain untuk diproduksi pasar modal yang telah matang, yaitu bursa saham.

Di awal tahun 1600an, VOC yang merupakan persekutuan dagang asal Belanda yang menguasai aktivitas perdagangan di Asia menjadi yang pertama memperdagangkan obligasi dan lembar saham pada masyarakat umum. Perdagangan saham perusahaan selanjutnya secara berkesinambungan dilakukan di Amsterdam Exchange. Kemudian dilanjutkan dengan munculnya turunan perdagangan berupa Opsi dan Repo.

Saat itu bentuk perdagangan saham masih berupa lembaran sertifikat kepemilikan saham. Namun saat ini bentuk perdagangan di pasar modal sudah beralih dalam bentuk digital yang disimpan di Rekening Dana Investor.

Sejarah pasar modal Indonesia

Sejarah pasar modal di Indonesia dimulai pada masa kolonial Belanda. Seperti yang disebutkan dalam sejarah pasar modal dunia, saat itu VOC merupakan penguasa perdagangan di Asia membuka pasar modal pertama di Indonesia pada tanggal 14 Desember 1912 di Batavia (saat ini menjadi Jakarta) untuk mencari modal dalam pembangunan perkebunan masal di Indonesia. Bursa efek tersebut bernama Vereniging voor de Effectenhandle (asosiasi perdagangan efek). Sayangnya, bursa efek tersebut harus ditutup di tahun 1914 hingga tahun 1918 sebagai akibat dari munculnya Perang Dunia I. 

Di tahun 1925 – 1942 bursa efek di Jakarta dibuka kembali ditambah dengan dibukanya bursa efek di Surabaya pada 11 Januari 1925 dan bursa efek di kota Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925.

Pecahnya Perang Dunia II memunculkan gejolak ekonomi yang cukup mengkhawatirkan kegiatan di pasar modal. Hal itu menyebabkan ditutupnya pasar modal Surabaya dan Semarang di tahun 1939. Kekhawatiran tersebut masih berlangsung dan semakin memburuk menyebabkan ditutupnya bursa efek di Jakarta selama 12 tahun dari tanggal 10 Mei 1940 hingga akhirnya tanggal 3 Juni 1952 pasar modal Jakarta dibuka kembali.

Masa transisi dari pemerintahan Belanda ke pemerintahan Indonesia masih memunculkan banyak masalah. Program nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing di tahun 1956 serta tingginya inflasi yang terjadi pada orde baru membuat khawatir investor di pasar modal sehingga bursa efek Indonesia harus ditutup.

Hingga pada tanggal 10 Agustus 1977 Presiden Soeharto kembali meresmikan Bursa Efek Jakarta dengan pengawasan dibawah BAPEPAM (Badan Pelaksana Pasar Modal). PT Semen Cibinong menjadi emiten perusahaan swasta pertama yang tercatat melakukan go public setelah sebelumnya PT Danareksa sebagai perusahaan BUMN pertama yang lebih dahulu melakukan go public.

Pembukaan pasar modal saat itu tidak langsung memperoleh tanggapan positif. Bentuk undang-undang yang banyak membatasi ruang gerak bagi perusahaan membuat pasar modal menjadi lesu. Hingga pada tahun 1987 pemerintah melakukan deregulasi terkait peraturan perundang-undangan di pasar modal sehingga semakin mempermudah Emiten dan juga Investor.

Melalui keputusan Kementrian Keuangan No. 1055/KMK.013/1989, pemerintah semakin menggiatkan pasar modal di Indonesia dengan membuka peluang bagi investor asing dengan batas kepemilikan maksimum 49%. Pemerintah pun merubah Bursa Efek Jakarta sebagai perusahaan swasta sedangkan BAPEPAM yang sebelumnya sebagai penyelenggara bursa, maka kini hanya menjadi regulator perdagangan di pasar modal. Pemerintah juga membentuk lembaga-lembaga baru seperti Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kliring dan Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), reksadana, dan manajer investasi.

Pada tahun 2007 akhirnya Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya digabungkan menjadi Bursa Efek Indonesia.

Manfaat pasar modal bagi Emiten dan Investor

Seperti yang diungkapkan oleh sejarah bahwa awal pasar modal menjadi tempat bertemunya Emiten yang membutuhkan modal dengan para Investor yang bersedia memberi modal dengan imbal hasil yang disepakati. Seiring waktu berjalan, surat-surat perjanjian tersebut akhirnya dapat dipindah-tangankan (diperjual-belikan) antar investor seperti yang saat ini terjadi di pasar modal sekunder. Namun manfaat pasar modal bukan hanya itu, para ahli mengungkapkan beberapa manfaat pasar modal sebagai berikut:
  • Sebagai sarana penambah modal bagi usaha

Perusahaan bisa memperoleh dana dengan cara menjual saham ke pasar modal yang akan ditawarkan ke masyarakat umum, perusahaan-perusahaan lain, lembaga, atau oleh pemerintah.
  • Sebagai sarana pemerataan pendapatan

Dividen akan dibagikan oleh perusahaan-perusahaan dalam jangka waktu tertentu kepada para investor. Dalam hal ini, penjualan saham melalui pasar modal dapat menjadi sarana pemerataan pendapatan dalam masyarakat umum.
  • Sebagai sarana peningkatan kapasitas produksi

Modal yang terkumpul dari hasil pelepasan saham perusahaan dapat dimanfaatkan untuk pengembangan usaha dan meningkatkan pertumbuhan perusahaan.
  • Sebagai sarana penciptaan tenaga kerja

Dengan bertumbuhnya industri-industri, secara otomatis akan membuka lapangan kerja untuk mengimbangi kebutuhan produksi.
  • Sebagai sarana peningkatan pendapatan negara

Setiap transaksi yang terjadi dipasar modal akan dikenakan pajak oleh pemerintah. Melalui pajak ini, pemerintah dapat meningkatkan pendapatan negara.
  • Sebagai indikator perekonomian negara

Begitu eratnya hubungan pasar modal dengan perekonomian negara sehingga pasar modal dapat dijadikan sebagai indikator perekonomian negara. Semakin meningkatnya aktivitas dan volume penjualan/pembelian di pasar modal memberi indikasi bahwa aktivitas bisnis berbagai perusahaan berjalan dengan baik yang dapat menunjang perekonomian. Begitu pula sebaliknya.

Secara khusus bagi emiten di pasar modal memperoleh manfaat, antara lain:

  1. Jumlah dana yang dapat dihimpun berjumlah besar
  2. Dana tersebut dapat diterima sekaligus pada saat pasar perdana selesai
  3. Tidak ada surat perjanjian khusus sehingga manajemen dapat lebih bebas dalam pengelolaan dana/perusahaan
  4. Penyelesaian masalah perusahaan tinggi sehingga dapat memperbaiki citra perusahaan
  5. Ketergantungan emiten terhadap bank menjadi lebih kecil


Bagi investor, pasar modal memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  1. Nilai investasi berkembang mengikuti pertumbuhan ekonomi. Peningkatan tersebut tercermin pada meningkatnya harga saham yang mencapai kapital gain
  2. Memperoleh dividen bagi mereka yang memiliki/memegang saham dan bunga yang mengambang bagi pemenang obligasi
  3. Dapat sekaligus melakukan investasi dalam beberapa instrumen untuk mengurangi risiko


Setelah memahami manfaat dan sejarah asal mula pasar modal harapannya dapat mengubah pandangan masyarakat mengenai investasi di pasar modal baik berupa obligasi, saham, ETF, dan lainnya. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun telah mengeluarkan fatwa memperbolehkan investasi di pasar modal, terutama dalam pasar modal syariah.


2/11/18

7 Hal Untuk Diperhatikan Sebelum Mulai Berinvestasi

7 Hal Untuk Diperhatikan Sebelum Mulai Berinvestasi

Mulai Investasi Untuk Orang Awam
Sebagian besar masyarakat masih cukup awam mengenai cara memulai investasi. Kebanyakan orang masih mengandalkan upah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Investasi merupakan hal yang sangat penting untuk memenuhi kebutuhan Anda dimasa depan. Dengan semakin meningkatnya jumlah populasi, tingkat pertumbuhan karir seseorang di suatu perusahaan pun semakin melambat. Jika beberapa tahun sebelumnya perusahaan masih menjanjikan karir yang tepat bagi setiap karyawannya, kini perusahaan lebih dominan mengambil tenaga baru yang lebih sesuai bidang pendidikannya. Dalam sebuah perusahaan mungkin hanya membutuhkan 2-3 orang manajer untuk perusahaan, sedangkan jumlah karyawan dibawah manajer bisa puluhan hingga ratusan orang. Itupun jika perusahaan tidak langsung mengambil manajer dari tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Jadi apakah Anda masih mengharapkan peningkatan pendapatan dari karir?

Sedangkan, untuk kenaikan upah Anda tiap tahun hanya mengikuti besaran inflasi per tahun. Pada dasarnya inflasi terjadi jika harga kebutuhan pokok semakin mahal, itu berarti upah Anda sebenarnya tidak meningkat, hanya mengikuti harga kebutuhan pokok. Sedangkan dalam kehidupan, setiap orang akan mengalami peningkatan kebutuhan, jika dahulu upah Anda cukup untuk hidup sendiri, kemudian Anda harus menghidupi kebutuhan istri dan anak, mendaftarkan anak ke sekolah, dan membayar kebutuhan tak terduga lainnya. Hal ini yang sering membuat orang tua semakin frustasi terhadap kebutuhan finansial mereka. Disinilah manfaat memulai investasi mulai dirasa penting.

Anda mungkin bisa menabung dan menyisihkan sedikit sisa pengeluaran saat ini untuk mempersiapkan kebutuhan dimasa depan. Namun sekali lagi, tabungan Anda yang tidak dapat tumbuh semakin dikalahkan oleh pertumbuhan inflasi yang terjadi. Untuk mengatasinya, Anda perlu berinvestasi entah itu dalam bentuk bisnis yang dikelola, atau melalui bentuk investasi lainnya. Bagaimana memulai sebuah investasi yang tepat bagi masing-masing orang?


Inilah beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai investasi untuk pemula:

1. Kenali perbedaan Keinginan dan Aset

Sebelum mulai berinvestasi, sebaiknya Anda mengetahui perbedaan antara keinginan dan aset. Aset merupakan hal yang memiliki nilai tambah dibanding harga belinya seiring waktu atau setiap digunakan. Apakah membeli mobil mewah merupakan Aset atau Keinginan? Jika Anda membeli mobil tersebut untuk keperluan sehari-hari maka hal itu lebih dianggap sebagai keinginan, namun mobil tersebut bisa menjadi sebuah aset jika Anda gunakan untuk rental, travel, dsb. Berinvestasi berarti Anda menyimpan Aset yang memiliki nilai tambah bukan sekedar kepemilikan.

2. Mengenal sumber dana investasi

Dalam hal ini, Anda lebih mengetahui dari mana Anda mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan Anda sehari-hari. Dana untuk memulai investasi bisa Anda gunakan dari tabungan, gaji, bonus, atau hasil usaha sampingan yang Anda kerjakan. Dalam perolehan dana investasi, kami sangat tidak menganjurkan Anda untuk mendapatkannya dari hutang mengingat resiko berinvestasi yang bisa berubah setiap saat.

3. Mengatur pendapatan dan kebutuhan pokok

Seberapa besar kebutuhan pokok yang Anda keluarkan setiap bulannya dibanding pendapatan Anda? Pada umumnya, para ahli investasi merekomendasikan persentase dana investasi sebanyak 10-20% dari pendapatan. Bagaimana jika sisa pendapatan Anda kurang dari persentase tersebut? Sebaiknya Anda mulai mengkoreksi kembali kebutuhan Anda untuk lebih berhemat. Seperti mengurangi biaya tagihan listrik, telepon, dsb.

4. Besar anggaran investasi

Dengan mengetahui besaran dana yang dialokasikan untuk memulai investasi, maka Anda bisa memilah bentuk investasi sesuai anggaran. Jika tabungan dan anggaran Anda cukup untuk membeli sebuah properti, mungkin properti bisa menjadi salah satu pilihan investasi Anda. Jika Anda ingin berinvestasi emas, itu berarti besaran anggaran investasi Anda harus lebih besar dari harga emas per gram saat ini. Bagaimana jika lebih kecil dari itu? Sebenarnya masih cukup banyak bentuk investasi lain saat ini yang cukup terjangkau seperti investasi reksadana yang bisa dibeli mulai Rp.100.000,- , atau investasi online lain tanpa modal yang dapat Anda baca pada artikel Investasi Online Dengan Aset Digital.

5. Pengelola investasi

Hal ini cukup penting untuk sebelum mulai berinvestasi sebaiknya diperhatikan apakah Anda akan mengelola Aset tersebut sendiri atau dengan bantuan Manajer Investasi seperti pada Reksadana. Jika mengelola investasi secara pribadi, Anda tidak perlu mengeluarkan biaya lain untuk ongkos jasa, tetapi Anda perlu mempelajari bentuk investasi tersebut dengan mendalam agar tidak sampai terjadi kerugian. Sedangkan dengan memanfaatkan keahlian Manajer Investasi, Anda tidak perlu repot mempelajari investasi Anda secara mendalam, namun dalam hal ini Anda perlu mengenal dan memperhatikan kinerja Manajer Investasi sebelumnya untuk mempercayakan pengelolaan aset Anda.


6. Memilih investasi berdasar resiko dan hasil

Mulai berinvestasi dengan memilih investasi yang sesuai dengan profil resiko dan tujuan Anda. Tidak ada hal yang pasti dalam berinvestasi, karena hal ini menyangkut masa depan yang tidak ada satu orang pun bisa benar-benar memastikan apa yang terjadi di masa depan. Namun Anda dapat mengurangi resiko ini dengan mempelajari kejadian di masa lalu untuk mempertimbangkan apakah investasi tersebut layak dimiliki atau tidak. Dalam berinvestasi dikenal sebuah prinsip “higher risk, higher profit”, semakin besar keuntungan yang ingin Anda dapat maka semakin besar resiko yang perlu Anda kendalikan.

7. Cara mengelola investasi

Cara mengelola investasi setiap bentuk investasi akan berbeda-beda, namun ada beberapa tips yang cukup membantu Anda, antara lain:

- Diversifikasi

Hal pertama yang perlu kita pelajari dari para investor berpengalaman adalah jangan menaruh seluruh investasi Anda pada satu Aset yang sama. Meskipun aset tersebut cukup menjanjikan, tapi seperti yang kita ketahui bahwa tidak ada hal yang pasti di masa depan. Dengan membagi investasi dalam beberapa aset atau dikenal dengan istilah diversifikasi, maka ketika salah satu aset Anda mengalami kerugian, masih bisa terkurangi dampaknya oleh aset yang lain.

- Timing

Pemilihan waktu yang tepat ketika membeli atau menjual aset Anda bisa memberikan dampak yang cukup besar. Jangan mudah panik ketika mendengar kabar buruk mengenai aset Anda, telusuri kebenaran dan dampaknya terlebih dahulu sebelum Anda mengambil keputusan. Percayalah pada pendirian Anda dibanding isu yang disebarkan orang lain.

Itulah tujuh hal yang perlu Anda ketahui sebelum mulai berinvestasi agar tujuan investasi Anda dapat tercapai sesuai harapan. Waktu terbaik untuk mulai berinvestasi sebaiknya dimulai saat ini, semakin cepat Anda memulai, semakin lama Anda menyimpan aset, semakin besar keuntungan yang bisa didapat. Selamat berinvestasi.

2/01/18

Review Pengalaman Investasi Reksadana

Review Pengalaman Investasi Reksadana

Review Pengalaman Investasi Reksadana
Sudah seberapa banyak tabungan Anda di Bank? Sudah berapa lama Anda mengendapkan uang Anda di Bank? Lalu, apakah uang Anda di bank semakin bertambah atau justru menyusut? Bisa jadi semakin bertambah karena Anda rajin menabung atau Anda tempatkan pada deposito, atau justru berkurang akibat biaya administrasi dan kemudahan penarikan dana yang menggoda Anda untuk berbelanja. Fakta inilah yang dirasakan oleh salah seorang narasumber kami yang demi menjaga privasi dan keamanan tidak akan kami sebutkan namanya. Di akhir artikel, Beliau akan menuturkan sedikit pengalamannya dalam mencari-cari penghasilan tambahan hingga akhirnya terpaut pada investasi reksadana.

Sekilas Mengenal Investasi Reksadana

Seperti yang kami sebutkan dalam artikel Memulai Investasi Reksadana bahwa Reksadana bersifat seperti sebuah wadah yang menampung dana dari investor untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi dalam berbagai bentuk investasi berupa Saham, Surat Berharga, Obligasi, Pasar Index, dan sebagainya sesuai dengan jenis reksadana yang dipilih oleh investor dalam bentuk portofolio Unit Penyertaan (UP). Seiring dengan keuntungan yang didapat oleh Manajer Investasi akan membuat nilai aktiva bersih (NAB) meningkat. Ilustrasi singkatnya ketika Anda membeli suatu reksadana sejumlah Rp. 100.000,- dengan NAB Rp. 2.000,- Anda akan mendapat 50 Unit Penyertaan, dalam kurun waktu 1 tahun NAB meningkat menjadi Rp. 3.000,- maka nilai investasi Anda menjadi 50 UP x Rp. 3.000,- = Rp.150.000,-. Begitu pula jika terjadi depresiasi, Anda pun bisa mengalami kerugian tetapi hal ini jarang terjadi jika Anda melakukan investasi jangka panjang. Namun dalam berinvestasi reksadana tidak diperlukan banyak pengalaman.






Alasan Memilih Investasi Reksadana

1. Mendapat penghasilan pasif

Mengingat kata-kata dari investor dunia Warren Buffet yang mengatakan “Jika Anda belum bisa menghasilkan uang ketika tidur, maka Anda akan bekerja seumur hidup”. Kalimat ini cukup singkat namun benar adanya. Berapa lama Anda akan terus bekerja? Tentu setiap orang ingin menikmati hidupnya di masa-masa akhir setelah berjuang cukup lama untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan mempersiapkan generasi penerus. Namun pernahkah Anda mentukan kapan mulai pensiun? Dan bagaimana Anda akan bertahan selama pensiun? Reksadana bisa menjadi salah satu solusi bagi Anda yang ingin mempersiapkan masa depan. Mengingat Indonesia masih menjadi salah satu negara berkembang maka potensi Anda untuk mendapatkan keuntungan berinvestasi masih terbuka lebar.

2. Mempercepat mencapai tujuan investasi

Anda ingin membeli rumah? Mobil? Mempersiapkan kuliah anak? Atau pergi Haji ke tanah suci dalam beberapa tahun mendatang? Jika Anda hanya mengandalkan tabungan dari gaji/pendapatan saat ini tentu jalan yang Anda tempuh akan cukup terjal karena semakin lama harga-harga kebutuhan pokok terus meningkat sedangkan tabungan Anda akan semakin tergerus inflasi. Dengan berinvestasi pada reksadana, Anda bisa mengungguli kenaikan inflasi dan membuat tabungan Anda semakin bertambah seiring waktu.

3. Resiko lebih kecil

Seperti yang i-Bisnis sebutkan sebelumnya bahwa resiko berinvestasi di reksadana cukup kecil karena investasi Anda dikelola oleh Manajer Investasi yang sudah cukup ahli dalam bidangnya. Dibandingkan dengan harus mengambil resiko sendiri dengan pengetahuan investasi yang ala kadarnya Anda justru akan kesulitan mengatur investasi Anda dan beresiko kehilangan investasi lebih besar. Seperti kata pengalaman mereka yang telah berinvestasi pada reksadana.

4. Dapat dicairkan sewaktu-waktu

Meski memiliki sifat hampir seperti Deposito, namun keunggulan reksadana adalah Anda tidak terikat oleh jangka waktu investasi. Anda bisa mengambil sebagian atau keseluruhan investasi Anda kapanpun tanpa dikenakan denda dan tidak ada batas minimum sisa saldo.

5. Nilai minimum investasi tergolong murah

Dibandingkan jenis investasi lain seperti rumah yang pasti berharga ratusan juta per unit atau emas yang saat ini per satu gram berharga Rp. 600.000,-an tentu investasi reksadana jauh lebih murah. Anda dapat mulai berinvestasi reksadana hanya dengan Rp.100.000,- atau lebih.

6. Membantu menyelamatkan aset negara

Terdengar sedikit patriotik, namun tahukah Anda bahwa saat ini lebih dari 70% saham-saham terbuka yang dijual oleh bursa efek dimiliki oleh asing, dan saat ini hanya sekitar 10% dari total penduduk Indonesia yang menempatkan investasinya dipasar modal. Hal ini cukup membahayakan jika suatu saat para investor tersebut menarik keseluruhan investasi mereka maka Indonesia bisa dilanda krisis ekonomi. Dengan berinvestasi pada reksadana meski hanya sekecil apa pun jika dilakukan oleh sebagian besar masyarakat tentu bisa perlahan menggeser kepemilikan modal asing dan menyelamatkan negri ini.






Review Hasil Pengalaman Investasi Reksadana oleh Narasumber

Sebelumnya kita kenali narasumber kita sebagai seorang karyawan swasta disebuah kota kecil di wilayah Kalimantan Timur. Tuntutan pekerjaan yang mengharuskan bekerja dari pagi hingga petang membuat Beliau tidak memiliki waktu untuk menjalankan bisnis meski sudah menjadi impiannya untuk memiliki usaha dan mendapatkan penghasilan pasif dari usahanya (jika sudah memiliki karyawan dalam bisnis). Karena keterbatasan tersebut mendorong Beliau untuk mencoba berbagai jenis hal yang berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan mulai dari menjadi seorang freelance designer, Online shop dari barang impor, Blogging, hingga program peer to peer lending dan akhirnya dari berbagai pengalaman tersebut membawanya berlabuh pada investasi Reksadana dan saat ini mengaku terinspirasi oleh Warren Buffet untuk mempelajari pasar saham.

Dari kegiatan Freelance dengan keahlian seadanya ternyata cukup sulit menghadapi persaingan dengan para ahli dibidangnya, meski hasil yang diperoleh pun cukup menarik karena terbayarkan dalam mata uang USD. Usaha online shop yang dijalankan sebenarnya cukup menarik, namun karena terkendala kurangnya waktu luang membuat Beliau kerepotan mengatasi impor barang dan permintaan yang ada lalu akhirnya menutup toko untuk menghindari kekecewaan pelanggan. Sambil mengisi waktu luang narasumber kami pun membuat beberapa tulisan dalam dua blog yang dikelolanya hingga saat ini sebagai sumber pendapatan pasif lainnya. Mendengar saat ini sedang booming adanya program peer to peer lending membuat beliau penasaran dan mencoba, setelah bergabung dengan salah satu penyedia layanan P2P Lending dan mulai menanamkan modalnya, beliau mengaku belum merasa puas dengan yang dihasilkannya dari program tersebut, namun program ini bisa membantu banyak wirausahawan dalam negri untuk berkembang sehingga beliau tetap menyimpan sebagian modalnya dalam program tersebut.

Setelah beberapa minggu mencari jenis investasi lainnya, beliau menemukan investasi reksadana dan semakin tertarik untuk mempelajarinya dan hingga akhirnya saat ini beliau merasa bahwa investasi reksadana masih menjadi investasi terbaik yang pernah dikenalnya.


Berapa return / pendapatan yang diperoleh dari reksadana?

Dalam investasi reksadana, Anda tidak dapat menentukan besaran pendapatan yang akan diperoleh karena banyak sekali faktor yang menentukan, tetapi Anda dapat memperkirakannya dari kinerja reksadana di masa lalu dan mengikuti perkembangan perekonomian dalam negri maupun perekonomian dunia. Namun narasumber kami mengungkapkan sedikit mengenai return yang diperoleh hingga saat ini sangat memuaskan untuk sebuah investasi dengan modal kecil. Narasumber mengaku mulai berinvestasi pada minggu kedua bulan januari ’17, awalnya hanya mencoba terjun untuk memuaskan rasa penasaran setelah berminggu-minggu mempelajari seluk beluk investasi reksadana. Selang 3 hari ternyata perolehannya cukup mengejutkan sehingga Beliau menambahkan investasinya saat itu juga dan membagi dalam empat pilihan reksadana. Alhasil, dalam kurun waktu kurang dari 3 minggu, dari jumlah modal sebesar dari 8,5 Juta sudah bisa didapat hasil hampir Rp. 429.000,- atau tumbuh sebesar 5,05%. Hal ini dirasa jauh lebih baik dari berbagai bentuk investasi yang pernah narasumber coba sebelumnya.

Review Pendapatan Investasi Reksadana.jpeg
Review Pendapatan Investasi Reksa Dana

Beberapa pengakuan pengalaman investor reksadana lainnya

Selain dari pengakuan narasumber kami, Anda juga bisa menemukan banyak sekali cerita pengalaman investasi di reksa dana dalam penelusuran Google. Sebagai contoh kami mengambil sebuah thread dari kaskus.co.id mengenai testimoni tiga investor reksa dana yang kami rangkum berikut:

1. Muhammad Fath
Pengalaman beliau awalnya berencana berinvestasi untuk biaya sekolah anaknya yang baru lahir tahun 2014 silam. Beliau mulai Investasi reksadana sejak tahun 2013 dan memang memiliki tujuan jangka panjang sehingga dipilihnya reksa dana saham. Ia mengaku bahwa reksa dana dipilihnya karena cukup ringkas tidak perlu mengecek setiap waktu, tingkat resiko reksa dana pun dinilai lebih aman dengan return lebih besar dari deposito. Meski kadang reksa dana saham sering berfluktuasi namun ia merasa cukup tenang karena meski kadang terjadi penurunan, namun biasanya pada akhir tahun akan kembali melonjak. Ia pun berencana untuk semakin meningkatkan investasinya untuk kelanjutan biaya kuliah anaknya kelak.






2. Maya Triana
Ibu rumah tangga ini menjadi semakin ketagihan berinvestasi pada reksa dana setelah pengalaman pertama kali mencoba. Awalnya beliau mengetahui adanya reksa dana dari sebuah acara televisi dan tertarik untuk mencobanya. Meski awalnya sang suami tidak menyetujuinya, ia nekat menanamkan modalnya sebesar Rp. 500,000,- dan rutin melakukan top-up setiap tiga bulan. Tanpa mengetahui saldo akhir reksa dana yang dimilikinya, pada bulan ke delapan ia mencoba mengambil seluruh investasinya dan terkejut. Tanpa disangka, ternyata dari keseluruhan modal yang ditanamnya telah tumbuh sebesar 10%. Ia pun menceritakan pada sang suami, kini mereka berdua semakin tertarik dan rutin menyisihkan 10-20% dari pendapatan sang suami setiap awal bulan.

3. M. Zabidin
Meski telah memiliki pengalaman sebagai seorang pengusaha batu bara dan kelapa sawit ini, namun tetap berinvestasi pada reksa dana saham. Beliau memilih reksa dana karena tidak seperti ketika berinvestasi saham, reksa dana dinyatakan lebih aman meski kadang ada penurunan, pada akhirnya akan tetap meningkat. Kemudahan dalam berinvestasi juga menjadi salah satu poin yang diunggulkannya. Tidak perlu lagi mendatangi kantor broker untuk berinvestasi, kini cukup dengan klik beli pada jenis reksa dana yang diinginkan, transfer dan selesai. Dana Anda akan dikelola oleh para ahli sebagai Manajer Investasi.



1/08/18

Cara Investasi Reksadana Online

Cara Investasi Reksadana Online


Bagi Anda yang ingin mengembangkan tabungan dari sebagian penghasilan Anda ada beberapa pilihan yang dapat dilakukan. Secara umum orang menyimpan tabungan mereka di Bank dengan mengharapkan bunga Bank. Namun, bukannya semakin bertambah, secara tidak langsung, tabungan mereka justru semakin berkurang akibat biaya administrasi Bank. Meski ada fasilitas Bank lainnya yang menjanjikan return (imbal hasil) cukup tinggi seperti Deposito, namun nilainya tidak sebanding dengan besarnya inflasi setiap tahunnya. Lalu, bagaimana kita bisa mengembangkan tabungan kita?


Apa itu reksadana?

Reksadana adalah sebuah wadah yang menerima modal / dana dari berbagai investor untuk dikelola oleh Manajer Investasi (MI) dengan membeli Saham, Obligasi, Pasar Uang, index, dan lainnya dalam bentuk unit penyertaan (UP) yang akan menjadi portofolio Anda. Membeli reksadana sama halnya dengan Anda menabung, yang mana tabungan Anda dalam Bank Kustodian akan dikelola oleh Manager Investasi untuk diinvestasikan sesuai dengan pilihan jenis investasi Anda. Dalam berinvestasi reksadana pun Anda tidak terikat oleh waktu, Anda bisa kapan saja menjual reksadana milik Anda yang akan di proses biasanya antara 2-4 hari kerja.


Mengapa perlu berinvestasi di reksadana?

Bagi sebagian orang, berinvestasi banyak sekali macamnya, ada yang memilih deposito, aset properti atau emas dan juga saham. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa dengan deposito, Anda mungkin akan mendapat return 6-8% per tahun, sedangkan rata-rata inflasi bisa mencapai 5-20%, maka deposito Anda tetap akan tergerus inflasi. Sedangkan untuk berinvestasi properti memang cukup menggiurkan, dimana harga properti akan terus meningkat cukup tajam, namun untuk berinvestasi properti dibutuhkan modal yang cukup besar hingga ratusan juta rupiah, selain itu dengan maraknya penipuan yang menawarkan rumah murah, namun akhirnya terdapat sengketa atau bahan bangunan yang tidak berkualitas sehingga bangunan rentan dan tidak bertahan lama.

Investasi emas saat ini memang cukup aman karena kita tidak lagi harus menyimpannya secara langsung, namun kita tetap diminta membayar biaya penyimpanannya, atau walaupun kita menyimpan secara langsung, saat Anda ingin menjualnya, tentu toko emas akan menawar dengan harga dibawah harga pasar, hal ini pun akan mengurangi keuntungan investasi Anda. Dalam berinvestasi saham saat ini memang sudah cukup terjangkau dibanding beberapa tahun lalu dimana saat ini jumlah per satu lot saham diperkecil menjadi hanya 100 lembar yang sebelumnya 500 lembar/lot. Dengan fluktuatif harga saham yang sangat cepat, Anda harus mengetahui seluk beluk saham dari perusahaan yang ingin Anda beli secara pasti, kebanyakan investor pemula trauma berinvestasi karena mereka kurang memiliki pengetahuan itu dan hanya berharap pada keberuntungan. Maka saat itulah Anda memerlukan manajer investasi yang akan mengendalikan modal Anda dalam reksadana.

Untuk berinvestasi dalam reksadana, Anda tidak perlu terlalu khawatir akan mengalami kerugian besar karena modal anda akan dibagi (diversifikasi) dalam beberapa instrumen berbeda untuk mengurangi resiko dan meningkatkan keuntungan. Menariknya lagi, jika Anda berinvestasi saham, maka investasi Anda dikenakan pajak dan Anda wajib menuliskannya pada SPT, tetapi tidak untuk reksadana, karena reksadana bukanlah salah satu objek pajak.


Macam-macam bentuk reksadana

Ada cukup banyak bentuk reksadana yang ditawarkan oleh Manajer Investasi, namun secara umum Anda perlu memahami 5 bentuk reksadana berikut ini:

1. Reksadana Saham (RDS) 

Reksadana yang melakukan investasi portofolionya lebih dari 80% ke dalam efek bersifat ekuitas (saham). Efek saham umumnya memberikan potensi hasil yang lebih tinggi berupa capital gain melalui pertumbuhan harga-harga saham dan pembagian keuntungan (dividen) namun dalam reksadana saham, dividen yang diterima tidak akan dibagikan secara langsung pada pemilik reksadana namun diinvestasikan kembali oleh manajer investasi sehingga meningkatkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana, dengan adanya reinvest tersebut dapat mengurangi besar kerugian ketika harga saham jatuh, tetapi juga meningkatkan keuntungan ketika harga saham naik. Reksadana saham memberikan potensi pertumbuhan nilai investasi yang paling besar namun juga memiliki resiko yang besar.

2. Reksadana Pasar Uang (RDPU)

Reksadana yang melakukan investasi 80% pada efek pasar uang yaitu efek hutang yang berjangka waktu kurang dari satu tahun, seperti SBI, deposito. Reksadana pasar uang merupakan reksadana yang memiliki risiko terendah namun juga memberikan return yang terbatas.


3. Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT)

Reksadana pendapatan tetap adalah reksadana yang melakukan investasi lebih dari 80% pada portofolio yang dikelolanya ke dalam surat hutang (obligasi). Risiko investasi yang lebih tinggi dari reksadana pasar uang membuat nilai return bagi reksadana jenis ini juga lebih tinggi tetapi tetap lebih rendah daripada reksadana campuran atau saham.

4. Reksadana Campuran (RDC)

Reksadana ini melakukan investasi dalam efek ekuitas (saham) dan efek hutang (obligasi) yang perbandingannya tidak termasuk dalam kategori reksadana pendapatan tetap dan reksadana saham. Potensi hasil dan risiko reksadana campuran dapat lebih besar dari reksadana pendapatan tetap namun lebih kecil dari reksadana saham.

5. Reksadana Index (RDI)

Reksadana Index merupakan reksadana yang isinya adalah sebagian besar dari index tertentu (tidak semua, yang penting merefleksikan index tersebut) dan dikelola secara pasif, artinya tidak melakukan jual beli di bursa, kecuali ada subscription (pembelian) baru atau redemption (penjualan), oleh karenanya reksadana index biasanya keuntungan dan kerugiannya sebanding dengan index tersebut (jika ada selisih, biasanya selisihnya kecil). Jika reksadana tersebut diperjualbelikan di bursa, maka disebut Exchange Traded Fund (ETF) dan harganya berfluktuasi tiap detiknya, sehingga membuatnya mirip saham.


Memilih Reksadana yang sesuai dengan profil resiko Anda

Sesuai dengan kebijakan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa setiap penyedia layanan finansial wajib mengetahui profil resiko investornya. Ketika Anda mendaftar pada layanan tersebut maka mereka akan membantu Anda mengenali jenis profil resiko yang tepat untuk Anda. Meskipun pada kenyataanya, Anda lah yang akan menentukan bentuk investasi tersebut. Dalam menentukan profil resiko ada beberapa hal yang menjadi penilaian antara lain: usia, besaran pendapatan, tujuan investasi, pengetahuan mengenai investasi, dll. Secara garis besar profil resiko investor dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
- Agresif : Cenderung mencari keuntungan lebih besar dan berani menanggung resiko yang besar pula. Reksa dana yang sesuai: RDS & RDI.
- Moderate : Mencari keuntungan yang cukup besar namun cukup berhati-hati dalam menilai resikonya. Reksa dana yang sesuai: RDC & RDPT.
- Konservatif : Investor yang lebih mengutamakan keamanan modal dengan mendapat keuntungan yang tidak begitu signifikan. Reksadana yang sesuai: RDPU & RDPT.

Bagaimana cara beli reksadana?

Saat ini terdapat puluhan Manajer Investasi yang tersedia dengan beragam produk investasi. Anda bisa mengunjungi kantor mereka atau jika Anda tidak memiliki waktu atau akses langsung, Anda kini bisa mendaftar secara online. Dari pengalaman penulis saat ini menggunakan layanan dari Bareksa.com sebagai supermarket dimana Anda bisa menemukan puluhan manajer investasi reksadana disana dengan produk-produk unggulannya. Indikator-indikator yang diberikan pun cukup lengkap dan sederhana sehingga cukup membantu bagi investor pemula atau bahkan yang sudah cukup ahli. Bareksa pun telah terdaftar dalam OJK sehingga cukup terjamin keamanannya. Untuk mendaftar secara online Anda akan diminta mengisi formulir profil dengan lampiran scan KTP, NPWP, dan buku tabungan. Setelahnya Anda akan diminta memberikan tandatangan elektronik pada dokumen yang dikirimkan ke email Anda (disarankan membuka melalui perangkat touch screen untuk mempermudah). 


Indikator penting untuk diketahui sebelum membeli reksadana

Seperti halnya ketika Anda ingin membeli kendaraan, Anda harus tahu performa kendaraan tersebut dan spesifikasinya bukan? Begitu pula dengan reksadana yang merupakan kendaraan Anda menuju tujuan investasi Anda. Sebelum membeli portofolio reksadana ada banyak indikator yang bisa menjadi acuan Anda dalam memilih suatu reksadana. Dari sekian banyak indikator, setidaknya Anda perlu mengetahui indikator berikut ini:


1. Prospectus & Fund Fact Sheet

Prospectus merupakan penawaran yang diberikan oleh manajer investasi dan beberapa peraturan yang perlu diketahui oleh investor. Fund Fact Sheet berisi profil secara umum mengenai profil manajer / produk investasi. Dalam Fund Fact Sheet Anda akan menemukan kemana manajer investasi akan menggunakan modal Anda dan bagaimana performa investasi yang mereka kelola selama ini. Di bidang apa mereka akan menggunakan modal Anda.

2. Beta

Beta merupakan index resiko investasi. Hal ini sebanding dengan nilai kemungkinan return yang diperoleh. Semakin tinggi nilai beta maka bisa jadi Anda mendapat keuntungan yang tinggi pula. Namun selalu ingat bahwa “keuntungan investasi yang tinggi diikuti resiko yang tinggi” begitu pula sebaliknya.

3. Grafik NAB

Berbeda dengan saham, keuntungan reksadana tidak dipengaruhi oleh seberapa banyak portofolio yang Anda miliki tetapi seberapa besar peningkatan Nilai Aktiva Bersih (NAB) atau persentase peningkatan harga jual reksadana. Dalam grafik tersebut anda bisa menilai apakah reksadana tersebut memiliki performa baik di masa lalu dan apakah masih akan berpotensi meningkat. Meski hal ini berfluktuasi, namun pada umumnya dalam jangka panjang nilai reksada akan terus meningkat seiring dengan index IHSG.

4. Return & Risk

Seperti halnya index Beta, namun dalam situs Bareksa, Anda akan menemukan indikator Return dan Risk yang terpisah dalam 5 tingkatan. Hal ini akan cukup membantu Anda dalam memutuskan reksa dana mana yang terbaik. Biasanya tingkat return akan sebanding dengan tingkat resiko (risk), namun jika Anda menemukan reksa dana dengan return tinggi namun risk rendah, maka resadana tersebut cukup layak untuk dibeli.

5. Barometer Bareksa

Ini merupakan indikator terbaik yang hanya ada di Bareksa untuk menilai apakah reksa dana tersebut layak untuk investasi atau tidak. Indikator ini terlihat dalam 5 tingkatan dengan lingkaran yang memiliki warna khusus sesuai jumlah dana kelolaan manajer investasi.



Tips dalam bertransaksi reksa dana:

1. Bedakan Investasi dengan Spekulasi

Inilah yang kadang salah diartikan oleh sebagian orang. Berinvestasi itu membutuhkan waktu lebih panjang bukan keuntungan sesaat. Anda mungkin bisa mengambil keuntungan dari kenaikan harga reksadana, dengan membeli ketika harga rendah, dan menjual ketika harga tinggi. Tapi dalam berinvestasi hal itu berarti Anda membantu perusahaan yang sedang membutuhkan dana untuk berkembang. Percayalah pada perusahaan yang Anda perkirakan akan tumbuh. Anda akan mendapatkan keuntungan lebih dari sekedar berspekulasi pada kemungkinan naik turunnya harga.

2. Tentukan target dan tujuan investasi

Bermacam-macam orang melakukan investasi dengan tujuan untuk membeli rumah dalam 10-20 tahun kedepan, atau berinvestasi untuk biaya kuliah anak beberapa tahun kedepan, atau Anda mungkin ingin membeli mobil atau untuk pensiun dini dari hasil investasi. Disinilah perlunya mengetahui tujuan dan jangka waktu yang ditargetkan untuk mengetahui seberapa besar sebaiknya Anda menyisihkan tabungan untuk berinvestasi. Anda dapat menggunakan alat simulasi reksa dana yang disediakan oleh Bareksa.

3. Ketahui kemana uang Anda akan diinvestasikan

Seperti yang kita ketahui, bahwa ada banyak pilihan reksa dana yang tersedia, dalam Fund Fact Sheet Anda dapat menemukan perusahaan atau pasar apa Manajer Investasi Anda mengalokasikan dana dari Anda. Hal ini penting diketahui, dengan mengenal apa yang Anda beli, maka Anda pun dapat memperkirakan apakah kemungkinan reksa dana Anda akan tumbuh dimasa mendatang atau bahkan akan turun.

4. Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang

Meski Anda melihat ada satu manajer investasi terbaik, jangan Anda tempatkan seluruh tabungan Anda disana. Ambil beberapa reksa dana, karena Anda tidak akan pernah tahu jika tiba-tiba terjadi penurunan.

5. Kendalikan emosi, yakinkan pada diri sendiri

Meski fluktuasi reksadana tidak setajam saham, namun akan tetap ada fluktuasi yang terjadi. Harga protofolio Anda bisa bergerak naik atau turun. Disinilah seringnya investor pemula menjadi panik ketika ada penurunan harga atau terlalu gembira ketika ada kenaikan harga tiba-tiba. Sehingga mereka menjual reksa dananya karena takut rugi terlalu banyak padahal saat itu perusahaan sedang memulai kebangkitannya atau karena takut harga akan jatuh saat sudah tinggi padahal kenaikan masih akan terus terjadi.


Hukum investasi reksadana dalam Islam

Mengingat bahwa sebagian besar warga negara Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka perlu kami jelaskan beberapa hal terkait investasi reksadana dalam hukum Islam. Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) telah mengeluarkan fatwa No. 20/DSN-MUI/IV/2001 yang membolehkan kaum muslim untuk berinvestasi reksadana, khususnya reksadana syariah.

Reksadana syariah memiliki prinsip seperti reksadana biasa, hanya saja pada reksadana syariah akan diinvestasikan pada aset berbasis syariah (produk halal atau jasa tanpa riba) oleh manager investasi.

Tertarik untuk berinvestasi? Mulailah saat ini juga, semakin lama Anda menaruh investasi Anda di pasar yang tepat, maka keuntungan Anda akan semakin berlipat-lipat. Selain Bareksa, Anda juga dapat beli Reksadana dan Saham dalam satu akun melalui Indopremier.

Baca: Review Pengalaman Hasil Investasi Reksadana


Jangan menunggu; tidak akan pernah ada waktu yang tepat. Mulailah di mana pun Anda berada, dan bekerja dengan alat apa pun yang Anda miliki. Peralatan yang lebih baik akan ditemukan ketika Anda melangkah.” – Napoleon Hill