Budidaya Ikan Lele Dengan Sistem Biofloc

Budidaya ikan lele dengan sistem biofloc
Apa menariknya budidaya ikan lele dengan sistem biofloc? Ikan lele sudah sangat popular dikalangan masyarakat karena rasa dagingnya yang lembut dan gurih. Pengolahan ikan lele yang paling popular adalah dengan digoreng sebagai menu pecel lele. Dikenal sebagai salah satu ikan yang cukup tangguh pada berbagai kondisi membuat budidaya ikan lele cukup mudah dan minim resiko. Harga ikan lele pun cukup terjangkau dipasaran sehingga menarik untuk dikonsumsi oleh berbagai kalangan. Tentunya hal ini memberi dampak positif bagi para peternak budidaya ikan lele. Dengan luasnya target pasar dan jumlah populasi manusia, maka permintaan produksi ikan lele pun semakin meningkat. Oleh sebab itu budidaya ikan lele akan tetap menggiurkan.

Tahun
Jumlah produksi ikan lele (/Ton)
2004
51.271
2005
69.386
2006
77.272
2007
91.735
2008
108.200

Sebelum beranjak pada teknik budidaya ikan lele dengan sistem biofloc, mari kita mengenal terlebih dahulu jenis-jenis ikan lele yang sering dibudidayakan dengan ekosistem habitatnya di alam. Ikan lele merupakan jenis ikan air tawar dan seringnya ditemukan pada arus perairan tenang-sedang seperti sungai, sawah, waduk, rawa dan telaga. Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap.

Jenis ikan lele yang paling banyak dibudidayakan adalah jenis lele dumbo dan lele sangkuriang:

  • Lele Dumbo

Ikan lele dumbo bisa dibedakan dengan lele lokal dari warnanya yang hitam kehijauan. Lele dumbo juga akan bereaksi ketika terkejut atau stres, kulitnya berubah menjadi bercak-bercak hitam atau putih dan kemudian akan berangsur-angsur kembali ke warna awal. Lele dumbo memiliki patil seperti lele lokal, namun patilnya tidak mengeluarkan racun. Lele dumbo juga cocok dipelihara di kolam tanah karena tidak mempunyai kebiasaan membuat lubang. Secara umum, lele dumbo bisa tumbuh lebih cepat, lebih besar dan lebih tahan terhadap penyakit dibanding lele lokal. Namun dari sisi rasa, daging lele dumbo lebih lebih lembek. Sebagian orang menganggap daging ikan lele lokal lebih enak rasanya dibanding lele dumbo.

  • Lele Sangkuriang

Ikan lele sangkuriang dihasilkan dari indukan betina lele dumbo generasi ke-2 atau F2 dan lele dumbo jantan F6. Induk betina merupakan koleksi BBPAT, keturunan F2 dari lele dumbo yang pertama kali didatangkan pada tahun 1985. Sedangkan indukan jantan merupakan keturunan F6 dari keturunan induk betina F2 itu. Penamaan Sangkuriang diambil dari cerita rakyat Jawa Barat tentang seorang anak yang bernama Sangkuriang yang mengawini ibunya sendiri. Sama seperti yang dilakukan BBPAT yang mengawinkan lele jantan F6 dengan induknya sendiri lele betina F2.

Dari hasil perkawinan ini ternyata didapatkan sifat-sifat unggul seperti kemampuan bertelur hingga 40.000-60.000 butir per sekali pemijahan. Jauh berbeda dengan kemampuan bertelur lele lokal yang berkisar 1.000-4.000 butir. Lele Sangkuriang juga lebih tahan terhadap penyakit, dapat dipelihara di air minim, dan kualitas daging yang lebih baik.

Hanya saja kelemahannya, peternak tidak bisa membenihkan lele Sangkuriang dari induk lele Sangkuriang. Apabila ikan lele Sangkuriang dibenihkan lagi, kualitasnya akan turun. Jadi pembenihan lele Sangkuriang harus dilakukan dengan persilangan balik.
(Sumber: https://alamtani.com/ikan-lele/)




Sistem BIOFLOC untuk budidaya ikan Lele

Biofloc merupakan gabungan dari kata “bios” (kehidupan) dan “flock” (gumpalan) adalah kumpulan dari berbagai organisme seperti bakteri, mikroalga, protozoa, ragi dan sebagainya, yang tergabung dalam gumpalan. Sehingga, sistem biofloc menggunakan pakan khusus atau sering disebut sebagai pakan herbal yang tidak hanya sebagai pakan tambahan, tetapi juga dapat membantu menciptakan bentuk ekosistem dalam kolam untuk menjaga kualitas air.

Keuntungan menggunakan sistem biofloc antara lain:

1. Kualitas air kolam terjaga

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa sistem biofloc akan membuat ekosistem dalam kolam lebih baik. Sistem ini sangat cocok digunakan untuk budidaya ikan lele karena secara biologis ikan lele memiliki usus yang lebih pendek sehingga lele mencerna makanan lebih cepat membuat lele cepat lapar dan membuang kotoran lebih sering dan berdampak pada air kolam yang cepat keruh dan membahayakan ikan lele. Dengan sistem bioflok Anda tidak perlu lagi membuat air bersirkulasi terus-menerus. Bahkan sistem biofloc melarang penggantian air yang terlalu sering agar kotoran ikan lele dapat diubah menjadi makanan tambahan.

2. Hemat pakan

Kandungan yang ada pada pakan sistem biofloc dapat membantu mengubah kotoran lele menjadi relik-relik yang dapat dimanfaatkan ikan lele sebagai makanan tambahan. Dengan adanya relik-relik yang dihasilkan oleh sistem bioflok pada kolam lele dapat membantu peternak untuk mengurangi jumlah pakan dan tentunya berdampak pada berkurangnya biaya pakan ikan lele yang tergolong rakus. Jumlah penghematan pakan ikan lele yang dihasilkan sistem biofloc bisa mencapai 25% dari jumlah pakan tanpa sistem biofloc.

3. Padat tebar tinggi

Meski secara penelitian kolam dengan sistem bioflok dapat menjaga sejumlah 3000 ekor ikan lele per m3 (tanpa sistem biofloc hanya mampu 700 ekor/ m3), namun sebagian peternak menjaga agar jumlah tersebut dikurangi. Hal itu dimaksudkan agar jumlah populasi ikan lele terjaga karena ikan lele termasuk hewan karnivora yang juga sering bertindak sebagai kanibal ketika merasa lapar.

4. Meningkatkan jumlah produksi

Dengan terjaganya ekosistem dalam kolam, maka ikan lele yang dapat dihasilkan juga lebih banyak, lebih sehat dan cepat tumbuh besar. Hal ini sangat menguntungkan bagi peternak karena biaya pakan yang sering dikeluhkan peternak  juga jauh berkurang.




Cara memulai budidaya ikan lele dengan sistem biofloc.

A. Membuat kolam lele

Secara umum, kolam lele dapat dibuat dalam 3 jenis yaitu kolam permanen dari beton, kolam tanah, dan kolam terpal. Kolam tanah kini lebih jarang digunakan karena perawatannya yang lebih rumit serta potensi penyakit yang ditimbulkan lebih besar. Bagi Anda yang baru ingin mencoba budidaya ikan lele dapat menggunakan kolam terpal atau kolam dari drum plastik bekas karena lebih murah biaya pembuatannya. Sedangkan jika Anda ingin lebih serius dapat menggunakan kolam permanen yang lebih awet untuk mengurangi biaya perawatan kolam jangka panjang.

Untuk menciptakan sistem biofloc dalam kolam lele dapat Anda lakukan sebagai berikut:

  1. Usahakan agar kolam lele dibuat pada lokasi yang terkena sinar matahari langsung.
  2. Pasangkan aerator
  3. Isi kolam dengan ketinggian air antara 80-100 cm
  4. Pada hari kedua masukan Probiotik sebanyak 5 ml/m3
  5. Hari ketiga tambahkan Molase sebanyak 250 ml/m3 lalu tambahkan Dolomite sebanyak 150-200 g/m3 di malam hari.
  6. Pastikan semuanya telah tercampur, Aerator akan membantu percampuran bahan-bahan tersebut.
  7. Sebelum mulai menebarkan benih, diamkan kolam selama 7 – 10 hari, pada hari berikutnya benih baru bisa ditebar.

B. Memilih dan menyebarkan benih

Sebelumnya kita telah mengenal jenis-jenis ikan lele yang cukup populer untuk di budidayakan. Masing-masing jenis memiliki keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Pastikan benih yang Anda peroleh sesuai dengan tujuan dan kondisi kolam Anda. Usahakan agar benih yang didapat berasal dari peternak yang memang khusus mengembangbiakan benih lele, karena perbedaan indukan akan sangat mempengaruhi pertumbuhan lele tersebut. 

Ikan lele yang sehat untuk budidaya pembesaran dapat dilihat dari gerakannya yang lincah, warna yang seragam dan tidak ada luka. Setelah benih ditebar, jangan lupa untuk menambahkan prebiotik sebanyak 5 ml/m3 di hari berikutnya.

C. Pemberian pakan dan perawatan

Pemberian pakan merupakan hal yang sangat penting, pilih pakan yang berkualitas dengan ukuran sebesar mulut ikan lele. Pakan dapat diberikan setiap pagi hari sebanyak 80% dari daya kenyang ikan dengan dicampur probiotik. Setiap seminggu sekali, puasakan ikan lele atau jangan diberi pakan. Ketika pada kolam telah terbentuk floc, Anda dapat mengurangi jumlah pakan.

Perlakuan perawatan ikan lele berukuran kurang dari 12 cm dengan lele berukuran lebih besar dari ukuran tersebut perlu dibedakan sebagai berikut:
1. Untuk ikan lele ukuran kurang dar 12 cm. Tambahkan probiotik (5 ml/m3) + ragi tempe (1 sdm/m3) + ragi tape (2 butir/m3). Pada malam harinya tambahkan Dolomite (200-300 g/m3). Lakukan setiap 10 hari sekali.
2. Untuk ikan lele ukuran lebih dari 12 cm. Tambahkan probiotik (5 ml/m3) + ragi tempe (3 sdm/m3) + ragi tape (6-8 butir/m3). Pada malam harinya tambahkan Dolomite (200-300 g/m3). Lakukan setiap 10 hari sekali.

*Catatan: Hindari pemberian pakan berupa organisme / daging (daging ayam, jeroan, dsb.) karena hal tersebut dapat memicu lele untuk memiliki insting kanibal.

D. Cara panen

Pada dasarnya tidak ada cara khusus dalam melakukan panen budidaya ikan lele. Hanya saja sering ditemukan dalam pertumbuhan ikan lele ada yang tumbuh lebih cepat atau cukup lambat dibanding kawnannya. Oleh sebab itu i-bisnis menyarankan agar dibuatkan kolam cadangan untuk menampung lele yang tumbuh lebih besar agar tidak memangsa lele-lele yang lebih kecil. Masa panen ikan lele cukup beragam tergantung pada perawatan, ukuran benih dan jenis ikan lele tersebut. Namun umumnya ikan lele dapat dipanen dalam waktu 3-4 bulan.

Tertarik untuk mencoba bisnis budidaya ikan lele dengan sistem biofloc ini?

Demi kenyamanan dan keamanan pengguna dan memastikan bahwa setiap komentar pembaca telah kami terima, maka setiap komentar akan kami moderasi terlebih dahulu. Harap tidak melakukan spam link, atau memberi komentar yang tidak berhubungan dengan topik artikel.

Terima Kasih
EmoticonEmoticon